Industri Manufaktur Kian Menguat di Tahun Pertama Pemerintahan Presiden Prabowo
Peran sektor industri manufaktur dalam perekonomian nasional terus menunjukkan penguatan pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini tercermin dari komposisi Penanaman Modal Asing (PMA) hingga kuartal III 2025 yang semakin didominasi oleh sektor industri manufaktur, sebagaimana hasil riset BRI Danareksa Sekuritas.
BRI Danareksa Sekuritas menilai terbentuknya struktur perekonomian baru ini menjadi fondasi awal bagi pemerintahan Prabowo. Pergeseran arus PMA ke sektor industri diyakini mampu mendorong aktivitas investasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan porsi PMA di sektor manufaktur meningkat signifikan, dari 35,3 persen pada 2018 menjadi 59,6 persen sepanjang Januari hingga September 2025. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh industri logam, kimia, mesin, dan elektronik, sekaligus mencerminkan semakin matangnya kebijakan hilirisasi yang berfokus pada penciptaan nilai tambah, bukan sekadar ekstraksi bahan mentah.
Di sisi lain, porsi PMA di sektor pertambangan mengalami penurunan, dari 12,3 persen pada 2021 menjadi 8,8 persen pada sembilan bulan pertama 2025. Penurunan ini sejalan dengan normalisasi harga komoditas global serta implementasi kebijakan hilirisasi yang semakin konsisten.
Dominasi investasi di sektor manufaktur dinilai memberikan dampak positif terhadap pemerataan kesejahteraan. PMA di sektor ini memiliki efek pengganda yang kuat, terutama bagi wilayah di luar Pulau Jawa, sehingga berkontribusi pada pemerataan pembangunan ekonomi regional.
Riset tersebut mencatat bahwa setiap PMA senilai Rp1 triliun di luar Jawa mampu menghasilkan tambahan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) sekitar Rp1,76 triliun. Sebagai perbandingan, PMA dengan nilai yang sama di Jawa hanya menghasilkan tambahan PMTB sekitar Rp140 miliar.
Dengan dominasi sektor manufaktur sebagai penopang utama investasi, peningkatan PMTB dan perluasan manfaat ekonomi secara regional dinilai semakin nyata. Wilayah di luar Jawa menjadi pihak yang paling diuntungkan, mencerminkan tingginya kebutuhan modal serta peran strategis PMA dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata secara geografis.
Meski demikian, terdapat sejumlah faktor penting yang perlu diperhatikan untuk menjaga momentum investasi ke depan. Beberapa di antaranya adalah siklus belanja modal, tingkat pemanfaatan kapasitas industri, serta pertumbuhan upah minimum. Riset tersebut menilai bahwa meskipun arus PMA semakin mengarah ke sektor manufaktur dan industri hilir, investasi domestik masih cenderung berhati-hati sehingga perlu terus dipantau melalui indikator-indikator tersebut.
